Refleksi Kuliah #1 : Membangun Filsafat Ilmu
Membangun Filsafat Ilmu
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
05 September 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA
Selanjutnya, Beliau menjelaskan bahwa paradigma dari filsafat ilmu adalah konstruktivis yang dapat diartikan “membangun”. Apa yang dibangun? Membangun segalanya. Membangun dunia, membangun akhirat, membangun hidup, membangun kepercayaan, membangun kesehatan, dll. Beliau juga menambahkan bahwa membangun yang paling bermakna adalah membangun dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, bukan dibangunkan oleh orang lain, sebab hal yang demikian itu tidak ada gunanya (tidak bermakna). Seperti yang dilakukan Prof. Dr. Marsigit MA dalam perkuliahan filsafat ilmu ini, beliau bukan melakukan perkuliahan dalam konteks memberi, melainkan memfasilitasi agar para mahasiswa bisa membangun filsafat ilmu mereka sendiri. Salah satu cara beliau memfasilitasi mahasiswa nya adalah melalui artikel-artikel di blog beliau. Dengan banyak-banyak membaca artikel dan melakukan refeleksi online, mahasiswa diharapkan dapat membangun filsafat ilmu mereka sendiri, yang kemudian dapat di breakdown menjadi membangun ilmu, iman, takwa, dan lain sebagainya.
Mengapa mahasiswa harus melakukan refleksi online setelah membaca artikel beliau? Hal tersebut dimaksudkan agar Prof. Dr. Marsigit MA dapat melihat bangunan seperti apa yang dimiliki mahasiswa nya. Dengan melakukan refeleksi online berarti mahasiswa sedang membangun filsafat mereka. Semakin sering melakukan refleksi online, berarti semakin besar pula bangunan yang dimiliki mahasiswa.
Salah satu ciri / tanda mahasiswa sedang membangun ilmu mereka adalah dengan adanya pertanyaan, sebab ilmu itu diawali dengan bertanya. Jika tidak ada pertanyaan berarti tidak ada ilmu. Selama masih ada pertanyaan, berarti sedang terjadi proses membangun ilmu oleh mahasiswa. Beliau memfasilitasi proses bertanya ini melalui Tugas yang diberikan kepada Mahasiswa untuk membuat 5 pertanyaan pada setiap pembelajaran filsafat ilmu.
Terkait dengan bertanya sebagai ilmu, hal tersebut kadang kontradiksi dengan praktik yang terjadi di lapangan. Masyarakat kurang memahami bahwa sesungguhnya pertanyaan itu ada karena ada proses membangun ilmu di dalamnya, sehingga jika ada seseorang (khusunya seorang anak / murid ) yang bertanya, justru malah dianggap “bodoh” atau “tidak bisa memahami materi yang diberikan”. Pandangan- pandangan seperti inilah yang perlu diubah. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari filsafat ilmu.
0 komentar :
Post a Comment
Don't be silent readers ^_^