2017

Sunday, 31 December 2017

Refleksi Kuliah #6 : Hidup itu Maju dan Berputar


Tanya Jawab : Apa itu hermeneutika ?
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
oleh Prof. Dr. Marsigit MA


Seperti biasa, perkuliahan Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada pukul 07.30 WIB sampai 09.10 WIB di ruang 5.01.13 dimulai dengan Tes Jawab Singkat. Berikut daftar pertanyaan dan jawabannya.

Kapan?
 = 
Belum tentu ketika
Bagaimana?
=
Mengada
Mengapa?
=
Terpilih
Untuk apa?
=
Pengada
Siapa?
=
Subjek atau Objek
Dimana?
=
Belum tentu disini
Kemana?
=
Ke perbatasan
Dengan siapa?
=
Dengan sifat
Berapa?
=
Kuantitas
Apa kabar?
=
Fondamen/ landasan
Hello
=
Fondamen
Yth?
=
Intensi (perhatian)
Hadirin dan Hadirat?
=
Intensi
Marilah?
=
Ditermin (kuasa)
Hendaknya?
=
Ditermin (kuasa)
Kita saling menjaga?
=
Hermenetika
Saling menghormati?
=
Hermenetika
Barangsiapa?
=
Aturan
Benar adalah benar?
=
Identitas
Salah adalah salah?
=
Identitas
Manusia?
=
Objek
Umat?
=
Predikat
Oleh karena itu?
=
Koherensi
Sebenar-benar?
=
Absolut
Harus?
=
Ditermin

Setelah Tes Jawab Singkat selesai, kemudian dilakukan Tanya Jawab antara Mahasiswa dengan Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pada sesi Tanya jawab tersebut, salah seorang mahasiswa bertanya mengenai Hermeneutika.

Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Hermeneutika hidup dapat diartikan sebagai memaknai hidup. Dalam hermeneutika hidup terdapat dua pokok, yaitu teori dan praktik. Teori hermeneutika hidup tersusun atas  lingkaran dan garis lurus. Jika lingkaran dan garis lurus ini digabungkan akan menjadi spiral, mirip seperti bentuk slinki. Jika spiral ini dianalogikan dalam jalan hidup kita, maka itu memang benar adanya.

Hidup kita ini tidak selalu di bawah dan juga tidak selalu di atas. Hidup kita it uterus maju dan berputar. Ada kalanya kita berada di atas dan ada kalanya kita berada dibawah. Teori Hermeneutika mengajarkan kita untuk tidak berlaku sombong jika kita sedang berada di atas karena suatu saat kita pasti akan merasakan saat-saat di mana kita berada di bawah.

Cara orang memaknai hidup berbeda-beda. Namun makna kehidupan telah tertuang ke dalam beberapa dimensi hierarki yang telah disebutkan oleh Prof Marsigit dalam diagram pada salah satu postingan di blog powermathematics.blogspot.co.id. Dimensi-dimensi hierarki tersebut yaitu spiritual, normatif, formal, dan material.

Ada orang yang memaknai hidup dengan lebih mencondongkan diri ke aspek spiritual. Orang tersebut akan banyak mengaitkan kehidupannya, hal-hal yang dilakukannya, dan memandang kehidupan dari sudut pandang spiritual. Ada orang yang memaknai hidup dengan lebih mencondongkan diri ke aspek material. Yang dicari orang tersebut adalah material yang mungkin memenuhi dan melengkapi kebutuhan hidupnya secara fisik bahkan psikis. Namun hidup yang sebenarnya menurut saya adalah dengan menghadirkan makna yang baik dimana pun, kepada siapa pun atau apa pun.

Secara logis, spiritual, normatif, formal dan material saling berkaitan. Norma-norma yang ada tentunya hadir dari ajaran spiritual yang mendekatkan diri dengan Tuhan.


Proses mencapai kesadaran ruang dan waktu juga merupakan hermeneutika. Di dalam nya diperlukan proses terjemah dan menerjemahkan. Dalam berfilsafat, proses terjemah dan menerjemahka ini sangat diperlukan, dan hal ini bisa dilakukan dengan terus membaca. proses terjemah dan menerjemahkan tersebut terus berlangsung dari tidak mengetahui sampai mengetahui.

Refleksi Kuliah #4 dan #5 : Narasi Besar Dunia


Narasi Besar Dunia
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
10 dan 17 Oktober 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA




Berbeda dengan perkuliahan filsafat ilmu sebelum-sebelumnya, perkuliahan pada tanggal 10 dan 17 Oktober 2017 tidak diawali dengan Tes Jawab Singkat. Pada dua pertemuan ini, Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan penjelasan terkait narasi besar dunia.

Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Segala yang mungkin ada contohnya tanggal lahir seseorang yang belum diketahui, namun terdapat potensi untuk diketahui. Jika tangal lahir itu sudah diketahui, maka hal itu menjadi sesuatu yang ada, ada di dalam pikiran. Belajar secara filsafat adalah mengadakan segala yang mungkin ada. Jika kita berpikir filsafat, yang ada dan mungkin ada tersebut pasti memiliki sifat, dimana Semua yang ada dan mungkin ada memiliki bermilyar pangkat milyaran sifat yang tidak akan mampu disebutkan.

Hakikat sesuatu yang tetap berada dalam pikiran. Tokoh dari filsafat yang tetap ini adalah Permenides. Filsafat tersebut dinamakan permenidesienisme. Kebenaran hal yang tetap atau di dalam pikiran bersifat absolut, sehingga lahir aliran absolutisme. Tokoh dari aliran filsafat ini adalah adalah Plato. Sedangkan hal yang berubah berada di luar pikiran. Tokoh filsafat dari segala berubah ini adalah Heraclitos, sehingga muncul aliran filsafat Heraclitosionisme. Kebenaran yang berubah bersifat riil atau nyata, sehingga lahir aliran realisme, tokohnya adalah Aristotle.

Ada kalanya jika pikiran kita tidak mampu menjangkau tentang sesuatu hal karena pikiran kita terbatas, hal ini merupakan transenden. Berbicara tentang pikiran hal ini tidak akan lepas dengan yang namanya logika. Logika itu merupakan rasio atau logisism. Tokohnya Bertrands Russell. Untuk tokoh rasionalisme, yakni Rene Descartes sedangkan pengalaman bersifat empiris, empirisism, dengan Tokohnya adalah David Yum

Dari yang ada dan mungkin ada ini masing masing memiliki pendukung dan terjadi semacam ‘pertengkaran’. Terjadi perdebatan antara paham empirisme dan rasionalisme. ‘Pertengkaran’ tersebut kemudian ditengahi oleh Immanuel Kant dengan teori sintetik apriori-nya. Menurut Kant, sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan dan pikiran yang diterapkan.. Hal ini terjadi pada 1671. Kemudian terjadi fenomena bendungan kompte. Compte datang dengan ‘positivisme’nya.  Augste Compte adalah seoarang mahasiswa dropout dari satu politeknik di Paris. Fenomena ini membawa kemajuan yang sangat pesat di peradaban dunia. Fenomena ini juga menghasilkan adanya powernow. Powernow meletakkan spiritual di tingkat atau bagian paling bawah.


Kita harus pintar, cerdas, mengunakan akal pikiran dan jangan lupa untuk  melibatkan hati nurani dalam menghadapi powernow.

Refleksi Kuliah #3 : Tes Jawab Singkat ~ Makna dalam Filsafat


Tes Jawab Singkat : Makna dalam Filsafat
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
3 Oktober 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA

Seperti perkuliahan Filsafat Ilmu sebelumnya, perkuliahan kali ini juga dilaksanakan di Gedung baru Pascasarjana tepatnya di ruang 5.01.13 pada pukul 07.30 – 09.10 WIB.
Perkuliahan dimulai dengan Tes Jawab Singkat. Tes Jawab Singkat kali ini membahas tentang makna dalam filsafat. Bapak Marsigit akan memberikan suatu pertanyaan maupun pernyataan, kemudian kami (mahasiswa) akan menjawab apa filsafatnya dari pertanyaan/pernyataan yang telah dilontarkan.

Berikut, daftar pertanyaan dan jawaban dari tes jawab singkat. Pada uraian di bawah juga saya sertakan refleksi saya terkait jawaban-jawaban dari tes tersebut.

1.      Apa makna filsafat,” Mengapa tidak tanda tangan?
Filsafatnya adalah foundationalism atau landasan dari komunikasi.

2.      Tanda tangan itu untuk apa?
Filsafatnya adalah utilitarian. Kata “Untuk Apa” termasuk ke dalam utilitarian.
Dalam aliran ini, manusia harus bertindak sebagaimana mungkin sehingga menghasilkan kemungkinan konsekuensi yang terbaik. Menurut A Mangunhardjana, Utilitarianisme adalah sebuah teori yang diusulkan oleh David Hume untuk menjawab moralitas yang saat itu mulai diterpa badai keraguan yang besar, tetapi pada saat yang sama masih tetap sangat terpaku pada aturan-aturan ketat moralitas yang tidak mencerminkan perubahan-perubahan radikal di zamannya.

3.      Lho emangnya ..
Filsafatnya adalah disharmoni.

4.      Lho jangan gitu...
Filsafatnya adalah determinist.
Determinisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa untuk setiap kejadian, termasuk interaksi manusia, terdapat kondisi yang dapat menyebabkan kejadian tersebut. Dan tidak mungkin kejadian tersebut berbeda, kecuali kondisi yang menyebabkan juga berbeda. Dalam aliran ini, manusia terpaksa dan sama sekali tidak memiliki kebebasan.

5.      Nada-nadanya nilai kosong. Nada-nadanya nilai nol juga.
Filsafatnya adalah teotologi yaitu meramal atau memperkirakan.

6.      Ketus amat sih..
Filsafatnya adalah anarki.

7.      Jadi nggak enak rasanya.
Filsafatnya adalah sensitif.

8.      Kayak gitu kok tanya
Filsafatnya adalah determinist.
Seperti yang sudah saya jabarkan pada jawaban soal ke -4, dalam aliran determinist manusia terpaksa dan sama sekali tidak memiliki kebebasan.
Sejatinya ketika kita sedang bertanya, berarti kita sedang mengada, mencoba mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Bertanya menandakan bahwa kita sedang berpikir.

9.      Ya.. Keterlaluan..
Filsafatnya adalah determinist.

10.  Tidak tandatangan.
Filsafatnya adalah nihilism.
Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Aliran ini berpandangan bahwa kehidupan tidak memiliki arti dan tidak ada yang perlu dicapai di dunia ini

11.  Mungkin karena tidak paham.
Filsafatnya adalah skeptisism.
Skeptis adalah sifat meragukan akan sesuatu. Menurut KBBI skeptis adalah sifat kurang percaya, atau ragu-ragu. Ragu - Ragu akan Pengalaman dan dunia yang dilihat. Sedangkan Skeptisisme adalah aliran ( paham ) yang memandang sesuatu tidak pasti.
Dalam Filsafat Sikap skeptis ini berarti meragukan semua hal dalam bentuk apa pun, untuk mencapai tujuan akhir yang tak tergoyahkan.

12.  Kan tergantung kesepakatannya.
Filsafatnya adalah foundationalism.

13.  Pikir..
Filsafatnya adalah rasionalism.
rasionalisme adalah paham dalam filsafat yang memandang bahwa cara memperoleh pengetahuan adalah dengan berpikir. Sehingga akal (pikiran) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan.

14.  Jangan Cuma berandai-andai.
Filsafatnya adalah fiksionalism.

15.  Ini kan wajib..
Filsafatnya adalah absolutism.
Absolutisme merupakan kebalikan dari relativisme. Absolutisme meyakini bahwa mental manusia dapat mencapai kebenaran mutlak tentang suatu obyek nyata, dalam arti, sesuaatu keyakinan di dalam pikiran tersebut disebut benar jika ia mencerminkan keadaan obyektif sebenarnya di alam luar. Untuk menyatakan kebenaran kebenaran tersebut, absolutisme menggunakan bahasa

16.  Anggap saja nggak paham.
Filsafatnya adalah idealism.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah Idealisme diambil dari kata idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Menurut Plato, seorang filosof idealisme klasik ( Yunani Purba ), menyatakan bahwa realitas terakhir adalah dunia cita. Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni apa yang disebut “mind”.

17.  Kayak gitu kok mengharapkan hasil terbaik.
Filsafatnya adalah perfectionalism.
Menurut pemahaman saya, dalam artian tingkah laku, perfeksionisme berarti tingkah laku yang selalu berusaha untuk mencapai kondisi terbaik atau sempurna. Dalam filsafat, perfeksionisme berarti aliran yang berdasar pada kehendak yang kuat untuk mencapai sesuatu.

18.  Focus. Focus. Focus.
Filsafatnya adalah reductionism atau abstraksi.

19.  Ehmm..
Filsafatnya adalah disharmoni.

20.  Ya terserah saja.
Filsafatnya adalah fakta.

21.  Mungkin.
Filsafatnya adalah skeptism.

22.  Ada.
Filsafatnya adalah determinist.

23.  Kerja. Kerja. Kerja.
Filsafatnya adalah mitos.

24.  Isyarat.
Filsafatnya adalah simbolism.

25.  Dicek lagi.
 Filsafatnya adalah hermeneutika.


Monday, 16 October 2017

Refleksi Kuliah #2 : Tes Jawab Singkat ~ dari yang Mungkin Ada menjadi Ada


Tes Jawab Singkat : dari yang Mungkin Ada menjadi Ada
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
26 September 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA

Pertemuan kedua perkuliahan filsafat ilmu dilaksanakan pada tanggal 26 September 2017 pukul 07.30 sampai 09.10 di ruang kuliah 5.01.13. Pertemuan kedua di isi dengan tes jawab singkat serta pembahasannya.

Tes jawab singkat tidak bertujuan seperti penilaian pada umumnya, melainkan berfungsi / bertujuan agar mahasiswa memperoleh intuisi berfilsafat serta untuk mengadakan apa yang mungkin ada. Tes kali ini terdiri dari 25 pertanyaan, sebagai berikut :

1. Anda itu apa ? = Hakikat

2. Anda Siapa? = Potensi

3. Anda darimana? = Terpilih

4. Anda mau kemana? = Memilih

5. Anda mengapa? = Bertanya

6. Anda ngapain disitu? = Berpikir

7. Siapa nama Anda? = ikonik / dunia

8. Siapa Ayah Anda? = Jiwa

9. Siapa Ibu Anda? = Jiwa

10. Siapa Pak Marsigit? = Pikiran

11. Apa cita-citamu? = Saksi

12. Siapa di belakangmu? = Epoke

13. Siapa di depanmu? = Fenomena

14. Siapa di atasmu? = Noumena

15. Siapa di bawahmu? = Bayang-bayang

16. Siapa di kirimu? = Potensi kiri

17. Siapa di kananmu? = Potensi kanan

18. Siapa temanmu? = Pikiran

19. Siapa kekasihmu? = Milikmu

20. Apa pekerjaanmu? = Mengada

21. Apa karyamu? = Pengada

22. Apa makananmu? = Bacaan

23. Apa bacaanmu? = Yang ada dan Mungkin ada

24. Apa mimpimu? = Keberadaan

25. Kamu dimana? = Perbatasan

Ketika menjawab pertanyaan tes jawab singkat diatas, mahasiswa kebingungan dan hasilnya masih sangat jauh dari yang diharapkan. Dari 20 mahasiswa, 18 diantaranya memperoleh nilai 0. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih sangat banyak hal yang tidak diketahui oleh kami para Mahasiswa. Jarak antara kami dan Prof. Dr. Marsigit MA adalah 100.

Dari tes jawab singkat ini, dapat kita sadari bahwa tes ini adalah salah satu media untuk melakukan hermeunitika hidup, menerjemahkan dan diterjemahkan. Mahasiswa menerjemahkan filsafat dengan cara membaca, membaca, dan membaca postingan blog Prof. Dr. Marsigit MA, dan mahasiswa diterjemahkan melalui pertanyaan dengan tujuan untuk mengetahui isi pikirannya.

Pembahasan dari soal-soal tes jawab singkat ini membuat mahasiswa menjadi terbuka pemikirannya terhadap filsafat. Bahwa filsafat itu adalah dirimu sendiri. Jawaban benar dan salah dalam filsafat itu bergantung dengan ruang dan waktu.

Pembahasan yang paling menarik perhatian saya adalah pembahasan soal dari nomor 20,21,dan 23, tentang mengada, pengada, dan yang mungkin ada. Hakikat metode pembelajaran Filsafat adalah mengubah dari yang mungkin ada menjadi ada. Unsur ada pada objek filsafat telah jelas bahwa segala sesuatu yang kita ketahui, yang kita telah lihat atau amati, serta yang kita pikirkan yang kemudian dapat kita jelaskan dan refleksikan secara jelas. Sedangkan unsur yang kedua dari objek filsafat yaitu yang mungkin ada, maksud dari unsur objek filsafat yang kedua ini adalah segala sesuatu yang belum terjadi, masih bersifat abstrak, belum kita ketahui dan belum pasti. Namun yang belum tentu ada tersebut bisa menjadi berubah menjadi ada jika informasi yang dapat membuatnya ada telah di input dalam pikiran kita, proses mengubah dari yang mungkin ada menjadi ada inilah yang disebut dengan mengada. Tes jawab singkat ini adalah salah satu cara Prof. Dr. Marsigit MA memfasilitasi mahasiswanya untuk mengada, seperti yang telah saya sebutkan diawal refleksi ini bahwa tujuan tes jawab singkat adalah mengubah dari yang mungkin ada menjadi ada.

Refleksi Kuliah #1 : Membangun Filsafat Ilmu


Membangun Filsafat Ilmu
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
05 September 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA

Pertemuan pertama perkuliahan filsafat ilmu dilaksanakan pada tanggal 15 September 2017 pukul 07.30 sampai 09.10 di ruang kuliah 5.01.13. Pertemuan pertama di isi dengan materi pengantar pada perkuliahan filsafat ilmu. Namun, pertama-tama kuliah dimulai dengan penjelasan dari Prof. Dr. Marsigit MA terkait sumber-sumber belajar yang digunakan dalam mata kuliah ini. Yang pertama adalah tentang silabus, silabus mata kuliah filsafat ilmu dapat di didownload di uny.academia.edu/MarsigitHrd. Selain silabus perkuliahan, di situs tersebut juga terdapat berbagai macam tulisan beliau yang jumlahnya berkisar hingga 90 makalah. Beliau juga menambahkan bahwa mahasiswa harus sering-sering dan banyak membaca artikel-artikel tulisan Beliau pada laman https://powermathematics.blogspot.co.id/ , di laman tersebut terdapat sekitar 700 artikel karya Prof. Dr. Marsigit MA. Artikel-artikel dalam blog tersebut merupakan sarana Beliau untuk memfasilitasi mahasiswa.

Selanjutnya, Beliau menjelaskan bahwa paradigma dari filsafat ilmu adalah konstruktivis yang dapat diartikan “membangun”. Apa yang dibangun? Membangun segalanya. Membangun dunia, membangun akhirat, membangun hidup, membangun kepercayaan, membangun kesehatan, dll. Beliau juga menambahkan bahwa membangun yang paling bermakna adalah membangun dirinya sendiri, untuk dirinya sendiri, bukan dibangunkan oleh orang lain, sebab hal yang demikian itu tidak ada gunanya (tidak bermakna). Seperti yang dilakukan Prof. Dr. Marsigit MA dalam perkuliahan filsafat ilmu ini, beliau bukan melakukan perkuliahan dalam konteks memberi, melainkan memfasilitasi agar para mahasiswa bisa membangun filsafat ilmu mereka sendiri. Salah satu cara beliau memfasilitasi mahasiswa nya adalah melalui artikel-artikel di blog beliau. Dengan banyak-banyak membaca artikel dan melakukan refeleksi online, mahasiswa diharapkan dapat membangun filsafat ilmu mereka sendiri, yang kemudian dapat di breakdown menjadi membangun ilmu, iman, takwa, dan lain sebagainya.

Mengapa mahasiswa harus melakukan refleksi online setelah membaca artikel beliau? Hal tersebut dimaksudkan agar Prof. Dr. Marsigit MA dapat melihat bangunan seperti apa yang dimiliki mahasiswa nya. Dengan melakukan refeleksi online berarti mahasiswa sedang membangun filsafat mereka. Semakin sering melakukan refleksi online, berarti semakin besar pula bangunan yang dimiliki mahasiswa.

Salah satu ciri / tanda mahasiswa sedang membangun ilmu mereka adalah dengan adanya pertanyaan, sebab ilmu itu diawali dengan bertanya. Jika tidak ada pertanyaan berarti tidak ada ilmu. Selama masih ada pertanyaan, berarti sedang terjadi proses membangun ilmu oleh mahasiswa. Beliau memfasilitasi proses bertanya ini melalui Tugas yang diberikan kepada Mahasiswa untuk membuat 5 pertanyaan pada setiap pembelajaran filsafat ilmu.

Terkait dengan bertanya sebagai ilmu, hal tersebut kadang kontradiksi dengan praktik yang terjadi di lapangan. Masyarakat kurang memahami bahwa sesungguhnya pertanyaan itu ada karena ada proses membangun ilmu di dalamnya, sehingga jika ada seseorang (khusunya seorang anak / murid ) yang bertanya, justru malah dianggap “bodoh” atau “tidak bisa memahami materi yang diberikan”. Pandangan- pandangan seperti inilah yang perlu diubah. Salah satu caranya adalah dengan mempelajari filsafat ilmu.