Karena siswa adalah Subjek Belajar ^_^
Sebuah Refleksi
Perkuliahan kamis, 18 september 2014,
di ruang kuliah D07.310,
Mata kuliah "Strategi Pembelajaran Matematika" oleh Dr. Marsigit MA dan Nila Mareta Murdiyani, S.Pd, M.Sc
Mata kuliah "Strategi Pembelajaran Matematika" oleh Dr. Marsigit MA dan Nila Mareta Murdiyani, S.Pd, M.Sc
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula
masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan
henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang hal tersebut. Sebagian besar
pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada “Bagaimana upaya untuk menemukan cara yang
terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu?” Dan “Bagaimana cara mengatasi praktik pembelajaran yang selama ini
dipandang kurang efektif?”
Jawabannya
adalah dengan lesson study. Lesson Study bukanlah suatu
strategi atau metode dalam pembelajaran, melainkan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Proses
Pembelajaran akan terjadi manakala terdapat interaksi atau
hubungan timbal balik antara siswa dengan lingkungannya guna transfer of knowledge dan juga transfer of value. Dalam proses pembelajaran yang selama ini terjadi di dunia
pendidikan indonesia adalah proses pembelajaran dengan menganut metode
konvensional yaitu ceramah. Dimana metode tersebut menjadikan siswa sebagai
penerima informasi secara pasif sedangkan guru adalah penentu jalannya proses
pembelajaran. Hal tersebut dapat menyebabkan siswa berasumsi bahwa segala
informasi dan pengetahuan yang berasal dari guru bersifat absolut dan mutlak. Metode
konvensional seperti ini cenderung lebih menekankan point teacher-centered,
dimana yang diperhatikan adalah bagaimana cara guru mengajar.
Lalu
pernahkah kita berfikir bahwa dengan menggunakan metode yang seperti itu proses
pembelajaran berjalan membosankan dan peserta didik menjadi pasif, karena tidak
berkesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Selain itu yang
paling penting adalah pengetahuan yang diperoleh melalui model ini lebih cepat
terlupakan dan juga dengan menggunakan metode ceramah menyebabkan peserta didik
menjadi belajar menghafal yang tidak mengakibatkan timbulnya pengertian.
Seharusnya
metode yang kita gunakan adalah metode yang lebih menekankan kepada point
student-centered, dimana yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana siswa
belajar. Dengan menitikberatkan point student-centered, siswa dapat menjadi
lebih aktif dan mandiri. Selain itu, dalam suatu kelas yang heterogen student
centered sangatlah berperan penting karena Student-Centered Learning
memiliki potensi untuk mendorong siswa
belajar lebih aktif, mandiri, sesuai dengan irama belajarnya
masing-masing.
Pertanyaan
berikutnya adalah, metode belajar seperti apa yang menitikberatkan
student-centered? Ada beberapa metode yang sesuai, diantaranya ialah model
pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran Discovery
(Discovery Learning), model pembelajaran berbasis projek (Project Based
Learning), model Cooperative Learning, dan model pembelajaran berbasis
permasalahan (Problem Based Learning). Semua model pembelajaran tersebut dapat
diterapkan di dalam kelas sesuai dengan kebutuhan siswa (yang heterogen seperti
yang telah disebutkan diatas).
Untuk
seluruh guru di Indonesia khususnya, harapannya semua guru dapat berhijrah dan
mengubah paradigmanya dari metode pembelajaran konvensional atau tradisional
menjadi metode pembelajaran yang inovatif. Mengubah dari yang siswa pasif
menjadi siswa aktif, dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara, dari
contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa, dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan
oleh siswa, dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa, dari siswa
diberi tahu menjadi siswa mencari tahu.
Karena
siswa adalah Subjek Belajar ^_^

0 komentar :
Post a Comment
Don't be silent readers ^_^