Telaah referensi keterkaitan Filsafat, Ideologi, dan Pendidikan dalam Proses Pembelajaran
Telaah referensi
keterkaitan Filsafat, Ideologi, dan
Pendidikan dalam Proses Pembelajaran
Tugas Mata Kuliah
Strategi Pembelajaran Matematika
|
|
By Prof.Dr.Marsigit, M.A - 30 September 2014,
@D07.310
Berikut
merupakan Telaah Referensi Keterkaitan Filsafat, Ideologi, dan Pendidikan dalam Proses
Pembelajaran dari sudut
pandang saya
Filsafat,
Ideologi, dan juga Pendidikan adalah kata-kata yang tentunya sudah tidak asing
lagi bagi kita. Kata-kata tersebut sering kita dengarkan dan atau kita ucapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Padahal sejatinya kita belum tentu mengerti apa
arti secara harfiah dari ketiga kata tersebut.
Filsafat
secara harfiah berasal kata Philo berarti cinta, Sophos berarti ilmu atau
hikmah, jadi filsafat secaraistilah berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah.
Pengertian dari teori lain menyatakan kata Arab falsafah daribahasa Yunani,
philosophia: philos berarti cinta (loving), Sophia berarti pengetahuan atau
hikmah (wisdom), jadi Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta
pada kebenaran. Pelaku filsafat berarti filosof,berarti: a lover of wisdom.
Orang berfilsafat dapat dikatakan sebagai pelaku aktifitas yang menempatkanpengetahuan
atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya. Ariestoteles (filosof Yunani kuno)
mengatakanfilsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, kadang-kadang disamakan
dengan pengetahuan tentangwujud (ontologi). Adapun pengertian filsafat mengalami
perkembangan sesuai era yang berkembang pula.Pada abad modern (Herbert)
filsafat berarti suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran. Terbagi atas
3bagian: logika, metafisika dan estetika (sumber : https://www.academia.edu/4686471/Filsafat_secara_harfiah_berasal_kata_Philo_berarti_cinta)
Menurut A.S. Hornby ideologi adalah seperangkat
gagasan yang membentuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi
oleh seorang atau sekelompok orang. Sedangkan Soerjono Soekanto menyatakan
bahwa secara umum ideologi sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan,
kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidang politik,
sosial, kebudayaan, dan agama. (sumber: http://suryanusa.blogspot.com/p/ideologi.html)
Pendidikan
adalah sistem
pengubahan sikap serta tatalaku seseorang atau grup orang didalam usaha
mendewasakan manusia melewati usaha pengajaran serta kursus, sistem, langkah,
perbuatan mendidik. ( Pusat bhs departemen pendidikan nasional. 2002 : 263 ) (sumber : http://pengertianpendidikan-sekolah.blogspot.com/2013/07/pengertian-pendidikan-secara-umum.html)
Lalu
apakah kesamaan dari ketiga hal tersebut? Baik filsafat, ideologi, maupun
Pendidikan, ketiganya merupakan suatu kategori, atau dapat kita katakan suatu
pengetahuan. Kategori atau Pengetahuan dalam hal apa? Ketiga hal tersebut
merupakan kategori dalam menyusun teori atau paradigma belajar mengajar dalam
pendidikan serta dalam menyusun kebijakan pemerintah terkait dengan sistem
pendidikan nasional, dimana kedua hal tersebut merupakan suatu kisi-kisi.
Berdasarkan
kedua kisi-kisi diatas (teori/paradigma belajar
mengajar dalam pendidikan serta kebijakan pemerintah terkait dengan sistem
pendidikan nasional) kita akan mampu
menyusun indikator-indikator yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar/pembelajaran.
Indikator-indikator yang nantinya perlu disusun diantaranya adalah strategi
pembelajaran, metode pembelajaran, dan model pembelajaran. Apakah kita hanya
perlu membuat satu strategi, metode, dan juga model pembelajaran? Jawabannya
tidak. Kita perlu membuat indikator-indikator tersebut sebanyak pendekatan
pembelajaran yang kita gunakan.
Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus menggunakan satu
pendekatan tertentu, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan
materi dan kebutuhan siswa. Kembali lagi karena kita harus menyesuaikan dengan
kebutuhan siswa, maka indicator-indikator yang kita buat juga harus
menyesuaikan dengan hal tersebut , sesuai dengan ppendekatan pembelajaran yang
kita pakai. Seperti yang kita tahu ada beberapa pendekatan pembelajaran,
diantaranya pendekatan kontekstual, pendekatan kontruktivisme, pendekatan
deduktif-induktif, pendekatan saintific, dll.
Misal ketika dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan
saintific, maka indikator kita baik itu strategi, metode, dan juga model
pembelajaran harus menggunakan pendekatan scientific pula. Jadi dalam proses
pembelajaran bisa terdapat lebih dari satu indicator, menyesuaikan dengan
pendekatan pembelajaran yang kita gunakan.
Setelah kita memiliki indicator-indikator tersebut diatas, harapannya
selanjutnya kita dapat menyusun instrument/perangkat pembelajaran yang terdiri
dari RPP,LKS,Textbook, dll. Sama seperti ketika kita menyusun indicator, dalam
menyusun perangkat pembelajaran kita juga harus menyesuaikan dengan metode
pembelajaran yang kita gunakan. Jika kita menggunakan pendekatan
konstruktivisme misalnya, maka RPP,LKS, dan juga textbook yang kita susun juga
harus menggunakan pendekatan konstruktivisme dalam konten-kontennya.
Setelah kita berhasil menyusun perangkat pembelajaran, apa yang
selanjuutnya harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah
melakukan observasi. Apakah indicator-indikator dan instrument-instrumen yang
kita susun sudah sesuai dengan pendekatan pembelajaran yang kita gunakan? Dan
yang paling penting adalah, apakah indicator-indikator dan instrument-instrumen
tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan siswa? jika belum, maka kita harus
mengganti indicator-indikator dan instrument-instrumen tersebut aga dapat
memenuhi kebutuhan siswa. itulah mengapa observasi sangat penting dilakukan.
0 komentar :
Post a Comment
Don't be silent readers ^_^