Refleksi Kuliah #4 dan #5 : Narasi Besar Dunia

Sunday, 31 December 2017

Refleksi Kuliah #4 dan #5 : Narasi Besar Dunia


Narasi Besar Dunia
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan Matematika UNY
10 dan 17 Oktober 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA




Berbeda dengan perkuliahan filsafat ilmu sebelum-sebelumnya, perkuliahan pada tanggal 10 dan 17 Oktober 2017 tidak diawali dengan Tes Jawab Singkat. Pada dua pertemuan ini, Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan penjelasan terkait narasi besar dunia.

Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Segala yang mungkin ada contohnya tanggal lahir seseorang yang belum diketahui, namun terdapat potensi untuk diketahui. Jika tangal lahir itu sudah diketahui, maka hal itu menjadi sesuatu yang ada, ada di dalam pikiran. Belajar secara filsafat adalah mengadakan segala yang mungkin ada. Jika kita berpikir filsafat, yang ada dan mungkin ada tersebut pasti memiliki sifat, dimana Semua yang ada dan mungkin ada memiliki bermilyar pangkat milyaran sifat yang tidak akan mampu disebutkan.

Hakikat sesuatu yang tetap berada dalam pikiran. Tokoh dari filsafat yang tetap ini adalah Permenides. Filsafat tersebut dinamakan permenidesienisme. Kebenaran hal yang tetap atau di dalam pikiran bersifat absolut, sehingga lahir aliran absolutisme. Tokoh dari aliran filsafat ini adalah adalah Plato. Sedangkan hal yang berubah berada di luar pikiran. Tokoh filsafat dari segala berubah ini adalah Heraclitos, sehingga muncul aliran filsafat Heraclitosionisme. Kebenaran yang berubah bersifat riil atau nyata, sehingga lahir aliran realisme, tokohnya adalah Aristotle.

Ada kalanya jika pikiran kita tidak mampu menjangkau tentang sesuatu hal karena pikiran kita terbatas, hal ini merupakan transenden. Berbicara tentang pikiran hal ini tidak akan lepas dengan yang namanya logika. Logika itu merupakan rasio atau logisism. Tokohnya Bertrands Russell. Untuk tokoh rasionalisme, yakni Rene Descartes sedangkan pengalaman bersifat empiris, empirisism, dengan Tokohnya adalah David Yum

Dari yang ada dan mungkin ada ini masing masing memiliki pendukung dan terjadi semacam ‘pertengkaran’. Terjadi perdebatan antara paham empirisme dan rasionalisme. ‘Pertengkaran’ tersebut kemudian ditengahi oleh Immanuel Kant dengan teori sintetik apriori-nya. Menurut Kant, sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan dan pikiran yang diterapkan.. Hal ini terjadi pada 1671. Kemudian terjadi fenomena bendungan kompte. Compte datang dengan ‘positivisme’nya.  Augste Compte adalah seoarang mahasiswa dropout dari satu politeknik di Paris. Fenomena ini membawa kemajuan yang sangat pesat di peradaban dunia. Fenomena ini juga menghasilkan adanya powernow. Powernow meletakkan spiritual di tingkat atau bagian paling bawah.


Kita harus pintar, cerdas, mengunakan akal pikiran dan jangan lupa untuk  melibatkan hati nurani dalam menghadapi powernow.

0 komentar :

Post a Comment

Don't be silent readers ^_^