Refleksi Kuliah #4 dan #5 : Narasi Besar Dunia
Narasi Besar Dunia
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu PPS Pendidikan
Matematika UNY
10 dan 17 Oktober 2017 oleh Prof. Dr. Marsigit MA
Berbeda dengan perkuliahan filsafat ilmu
sebelum-sebelumnya, perkuliahan pada tanggal 10 dan 17 Oktober 2017 tidak
diawali dengan Tes Jawab Singkat. Pada dua pertemuan ini, Prof. Dr. Marsigit,
M.A memberikan penjelasan terkait narasi besar dunia.
Objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada. Segala yang mungkin ada contohnya tanggal lahir seseorang yang
belum diketahui, namun terdapat potensi untuk diketahui. Jika tangal lahir itu
sudah diketahui, maka hal itu menjadi sesuatu yang ada, ada di dalam pikiran.
Belajar secara filsafat adalah mengadakan segala yang mungkin ada. Jika kita
berpikir filsafat, yang ada dan mungkin ada tersebut pasti memiliki sifat,
dimana Semua yang ada dan mungkin ada memiliki bermilyar pangkat milyaran sifat
yang tidak akan mampu disebutkan.
Hakikat sesuatu yang tetap berada dalam pikiran. Tokoh
dari filsafat yang tetap ini adalah Permenides. Filsafat tersebut dinamakan
permenidesienisme. Kebenaran hal yang tetap atau di dalam pikiran bersifat
absolut, sehingga lahir aliran absolutisme. Tokoh dari aliran filsafat ini
adalah adalah Plato. Sedangkan hal yang berubah berada di luar pikiran. Tokoh
filsafat dari segala berubah ini adalah Heraclitos, sehingga muncul aliran
filsafat Heraclitosionisme. Kebenaran yang berubah bersifat riil atau nyata,
sehingga lahir aliran realisme, tokohnya adalah Aristotle.
Ada kalanya jika pikiran kita tidak mampu menjangkau
tentang sesuatu hal karena pikiran kita terbatas, hal ini merupakan transenden.
Berbicara tentang pikiran hal ini tidak akan lepas dengan yang namanya logika.
Logika itu merupakan rasio atau logisism. Tokohnya Bertrands Russell. Untuk
tokoh rasionalisme, yakni Rene Descartes sedangkan pengalaman bersifat empiris,
empirisism, dengan Tokohnya adalah David Yum
Dari yang ada dan mungkin ada ini masing masing
memiliki pendukung dan terjadi semacam ‘pertengkaran’. Terjadi perdebatan
antara paham empirisme dan rasionalisme. ‘Pertengkaran’ tersebut kemudian
ditengahi oleh Immanuel Kant dengan teori sintetik apriori-nya. Menurut Kant,
sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan dan pikiran yang
diterapkan.. Hal ini terjadi pada 1671. Kemudian terjadi fenomena bendungan
kompte. Compte datang dengan ‘positivisme’nya.
Augste Compte adalah seoarang mahasiswa dropout dari satu politeknik di
Paris. Fenomena ini membawa kemajuan yang sangat pesat di peradaban dunia. Fenomena
ini juga menghasilkan adanya powernow. Powernow meletakkan spiritual di tingkat
atau bagian paling bawah.
Kita harus pintar, cerdas, mengunakan akal pikiran dan
jangan lupa untuk melibatkan hati nurani
dalam menghadapi powernow.

0 komentar :
Post a Comment
Don't be silent readers ^_^