Tugas : Etik dan Estetika Wayang
Wayang Kulit Lakon Dumadine Argowijil
Dalam Rangka Perayaan Malam Tahun Baru 2018
Dalang : Sumarno Purbo Carito
Minggu, 31 Desember 2017 pukul 21.00 WIB – selesai
Pasar Ekologis Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari
Salah satu tugas mata
kuliah Filsafat Ilmu adalah mengidentifikasi nilai Etik dan Estetika dari
pertunjukkan wayang.
Apa itu Etik dan Estetika?
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), Etik adalah Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan
dengan akhlak; Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat. Etik atau Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata ethos
yang berarti adat kebiasaan tetapi ada yang memakai istilah lain yaitu moral
dari bahasa latin yakni jamak dari kata nos yang berarti adat kebiasaan juga. Etika
mempersoalkan bagaimana semestinya manusia, mempertimbangkan tentang baik dan
buruk suatu hal dan harus berlaku umum.
Sedangkan pengertian
estetika adalah cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan
keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya; kepekaan terhadap seni dan
keindahan (menurut KBBI). Kata estetika berasal dari kata Yunani aesthesis yang
berarti perasaan, selera perasaan atau taste. Sedangkan estetika membahas
tentang indah atau tidaknya sesuatu. Tujuan estetika adalah untuk menemukan
ukuran yang berlaku umum tentang apa yang indah dan tidak indah itu.
Pada Hari Minggu,
tanggal 31 Desember 2017, sebagai perayaan menyambut tahun baru 2018, diadakan
pertunjukkan wayang kulit di Pasar Ekologis Argowijil, Desa Gari, Kecamatan
Wonosari, Gunungkidul. Pertunjukkan wayang dengan dalang Sumarno Purbo Carito
ini mengangkat lakon tentang “dumadine Argowijil”.
Argowijil sendiri
merupakan nama pasar Ekologi di Desa Gari Kecamatan Wonosari yang merupakan
hasil upaya reklamasi Gunung Wijil. Nama Pasar Argowijil memiliki arti bahwa
Argo dalam bahasa jawa adalah Gunung/ Gunungan, sedangkan wijil itu merupakan
sebutan atau penamaan kawasan tersebut. Nama sebutan telah ada sejak dahulu
menjadi asal muasal identitas tempat tersebut. Pasar Argowijil dahulunya
merupakan sebuah pegunungan, masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Wijil.
Pada awalnya Gunung
Wijil ditambang oleh masyarakat sekitar untuk bahan material membangun mushola,
sekitar tahun 1976-an. Seiring berjalannya waktu penambangan menjadi aktivitas
masyarakat sebagai mata pencaharian. Bahan tambang untuk kebutuhan material
bangunan seperti bahan pondasi, bahan baku pembuatan gamping dan sebagainya.
Selain digunakan untuk kebutuhan penambang/ masyarakat, hasil tambang juga
dijual menjadi tumpuan penggerak roda perekonomian pada saat itu. Akan tetapi
sumber daya alam tersebut lambat laun makin menipis dan habis ketika terus
dimanfaatkan. Gunung Wijil pada mulanya merupakan gunung yang tinggi menjulang,
dikawasan gunung banyak pepohonan. Namun karena aktivitas penambangan,
lama-lama Gunung Wijil menjadi daratan yang landai, bahkan cekungan dalam.
Nilai Etik dalam pertunjukan Wayang “dumadine
Argowijil”
Dalam pertunjukan
wayang ini menurut saya ada beberapa nilai etik yang dapat kita petik,
diantaranya adalah :
1.
Warga masyarakat di
sekitar Gunung Wijil jaman dahulu merupakan masyarakat yang tekun dan rajin
dalam beribadah. Hal tersebut ditunjukkan bahwa pada tahun 1976, warga berusaha
untuk membangun mushola.
2.
Nilai Gotong Royong
juga ditampilkan ketika warga digambarkan sedang bersama-sama menambang bahan
material untuk membangun mushola.
3.
Tak lupa nilai gigih,
ulet, dalam bekerja. Digambarkan saat itu warga bekerja keras untuk bekerja
sebagai penambang material bangunan.
4.
Digambarkan para
kepala keluarga bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka dengan bekerja
di Gunung Wijil dari pagi hingga sore.
5.
Diantara semua
nilai-nilai etik postif / baik, terselip juga nilai etik yang sedikit kurang
baik. Salah satunya ditunjukkan ketika warga kurang bijaksana dalam
memanfaatkan SDA di Gunung Wijil. Hal tersebut membuat kita refleksi dan
berupaya untuk tidak meniru perilaku itu.
Dan masih banyak lagi
nilai etik yang bisa dipetik / diambil dari pertunjukkan wayang ini.
Nilai Estetika dalam pertunjukan Wayang “dumadine
Argowijil”
Dalam pertunjukan
wayang ini menurut saya ada banyak hal yang bisa kita lihat dan kita nikmati nilai
estetikanya, diantaranya adalah :
1.
Wayang. Dalam suatu
pertunjukkan wayang, wayang nya itu sendiri sudah merupakan memiliki nilai
estetika tersendiri. Terbuat dari bahan Kulit, dengan model bentuk warna ornament
yang berbeda-beda membuat wayang terlihat indah, menarik, bagus.
2.
Dalang. Tentunya
salah satu yang memegang peranan penting dalam pertunjukkan wayang adalah
Dalang. Akting suara dari sang dalang merupakan esetetika tersendiri. Begitu
dalang mulai narasinya, rasa-rasanya ada daya tarik yang membuat penonton jadi
memperhatikan dan mendengarkan. Belum lagi kelincahan para dalan dalam
menggerakkan wayang-wayang yang digunakan. Rasanya seperti melihat mereka
menari-nari.
3.
Sinden, Penggamel,
Gamelan, dan Lagu. Keempat hal ini tidak dapat dipisahkan. Selain menikmati
suara dalang, yang tidak boleh ketinggalan lainnya adalah music serta lagu-lagu
yang menjadi pengiring pertunjukkan. Suara Indah para Sinden, Keterampilan para
Penggamel dalam memainkan Gamelan, serta lagu-lagu Jawa yang bagus digabungkan
membentuk satu kesatuan yang begitu indah.
4.
Keseluruhan
pertunjukkan wayang itu sendiri adalah Keindahan.
Dan masih banyak lagi
nilai estetika yang dapat dinikmati dari pertunjukkan wayang ini.

0 komentar :
Post a Comment
Don't be silent readers ^_^