Monday, 20 October 2014

Telaah referensi keterkaitan Filsafat, Ideologi, dan Pendidikan dalam Proses Pembelajaran




Telaah referensi keterkaitan  Filsafat, Ideologi, dan Pendidikan dalam Proses Pembelajaran
Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Matematika
 
By Prof.Dr.Marsigit, M.A - 30 September 2014, @D07.310




Berikut merupakan Telaah Referensi Keterkaitan Filsafat, Ideologi, dan Pendidikan dalam Proses Pembelajaran dari sudut pandang saya

 
Filsafat, Ideologi, dan juga Pendidikan adalah kata-kata yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Kata-kata tersebut sering kita dengarkan dan atau kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal sejatinya kita belum tentu mengerti apa arti secara harfiah dari ketiga kata tersebut. 

Filsafat secara harfiah berasal kata Philo berarti cinta, Sophos berarti ilmu atau hikmah, jadi filsafat secaraistilah berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Pengertian dari teori lain menyatakan kata Arab falsafah daribahasa Yunani, philosophia: philos berarti cinta (loving), Sophia berarti pengetahuan atau hikmah (wisdom), jadi Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Pelaku filsafat berarti filosof,berarti: a lover of wisdom. Orang berfilsafat dapat dikatakan sebagai pelaku aktifitas yang menempatkanpengetahuan atau kebijaksanaan sebagai sasaran utamanya. Ariestoteles (filosof Yunani kuno) mengatakanfilsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentangwujud (ontologi). Adapun pengertian filsafat mengalami perkembangan sesuai era yang berkembang pula.Pada abad modern (Herbert) filsafat berarti suatu pekerjaan yang timbul dari pemikiran. Terbagi atas 3bagian: logika, metafisika dan estetika (sumber : https://www.academia.edu/4686471/Filsafat_secara_harfiah_berasal_kata_Philo_berarti_cinta)

Menurut  A.S. Hornby ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegangi oleh seorang atau sekelompok orang. Sedangkan Soerjono Soekanto menyatakan bahwa secara umum ideologi sebagai kumpulan gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang menyangkut bidang politik, sosial, kebudayaan, dan agama. (sumber: http://suryanusa.blogspot.com/p/ideologi.html)

Pendidikan adalah sistem pengubahan sikap serta tatalaku seseorang atau grup orang didalam usaha mendewasakan manusia melewati usaha pengajaran serta kursus, sistem, langkah, perbuatan mendidik. ( Pusat bhs departemen pendidikan nasional. 2002 : 263 ) (sumber : http://pengertianpendidikan-sekolah.blogspot.com/2013/07/pengertian-pendidikan-secara-umum.html)

Lalu apakah kesamaan dari ketiga hal tersebut? Baik filsafat, ideologi, maupun Pendidikan, ketiganya merupakan suatu kategori, atau dapat kita katakan suatu pengetahuan. Kategori atau Pengetahuan dalam hal apa? Ketiga hal tersebut merupakan kategori dalam menyusun teori atau paradigma belajar mengajar dalam pendidikan serta dalam menyusun kebijakan pemerintah terkait dengan sistem pendidikan nasional, dimana kedua hal tersebut merupakan suatu kisi-kisi.

Berdasarkan kedua kisi-kisi diatas (teori/paradigma belajar mengajar dalam pendidikan serta kebijakan pemerintah terkait dengan sistem pendidikan nasional) kita akan mampu menyusun indikator-indikator yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar/pembelajaran. Indikator-indikator yang nantinya perlu disusun diantaranya adalah strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan model pembelajaran. Apakah kita hanya perlu membuat satu strategi, metode, dan juga model pembelajaran? Jawabannya tidak. Kita perlu membuat indikator-indikator tersebut sebanyak pendekatan pembelajaran yang kita gunakan. 

Pendekatan pembelajaran tentu tidak kaku harus menggunakan satu pendekatan tertentu, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi dan kebutuhan siswa. Kembali lagi karena kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan siswa, maka indicator-indikator yang kita buat juga harus menyesuaikan dengan hal tersebut , sesuai dengan ppendekatan pembelajaran yang kita pakai. Seperti yang kita tahu ada beberapa pendekatan pembelajaran, diantaranya pendekatan kontekstual, pendekatan kontruktivisme, pendekatan deduktif-induktif, pendekatan saintific, dll. 

Misal ketika dalam proses belajar mengajar menggunakan pendekatan saintific, maka indikator kita baik itu strategi, metode, dan juga model pembelajaran harus menggunakan pendekatan scientific pula. Jadi dalam proses pembelajaran bisa terdapat lebih dari satu indicator, menyesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang kita gunakan.

Setelah kita memiliki indicator-indikator tersebut diatas, harapannya selanjutnya kita dapat menyusun instrument/perangkat pembelajaran yang terdiri dari RPP,LKS,Textbook, dll. Sama seperti ketika kita menyusun indicator, dalam menyusun perangkat pembelajaran kita juga harus menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang kita gunakan. Jika kita menggunakan pendekatan konstruktivisme misalnya, maka RPP,LKS, dan juga textbook yang kita susun juga harus menggunakan pendekatan konstruktivisme dalam konten-kontennya.

Setelah kita berhasil menyusun perangkat pembelajaran, apa yang selanjuutnya harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah melakukan observasi. Apakah indicator-indikator dan instrument-instrumen yang kita susun sudah sesuai dengan pendekatan pembelajaran yang kita gunakan? Dan yang paling penting adalah, apakah indicator-indikator dan instrument-instrumen tersebut sudah mampu memenuhi kebutuhan siswa? jika belum, maka kita harus mengganti indicator-indikator dan instrument-instrumen tersebut aga dapat memenuhi kebutuhan siswa. itulah mengapa observasi sangat penting dilakukan.

Monday, 22 September 2014

Karena siswa adalah Subjek Belajar ^_^




Sebuah Refleksi
Perkuliahan kamis, 18 september 2014, di ruang kuliah D07.310, 
Mata kuliah "Strategi Pembelajaran Matematika" oleh Dr. Marsigit MA dan Nila Mareta Murdiyani, S.Pd, M.Sc


Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang hal tersebut. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada “Bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu?” Dan “Bagaimana cara mengatasi praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif?”
Jawabannya adalah dengan lesson study. Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, melainkan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Proses Pembelajaran akan terjadi manakala terdapat interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan lingkungannya guna transfer of knowledge dan  juga transfer of value. Dalam proses pembelajaran yang selama ini terjadi di dunia pendidikan indonesia adalah proses pembelajaran dengan menganut metode konvensional yaitu ceramah. Dimana metode tersebut menjadikan siswa sebagai penerima informasi secara pasif sedangkan guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran. Hal tersebut dapat menyebabkan siswa berasumsi bahwa segala informasi dan pengetahuan yang berasal dari guru bersifat absolut dan mutlak. Metode konvensional seperti ini cenderung lebih menekankan point teacher-centered, dimana yang diperhatikan adalah bagaimana cara guru mengajar.

Lalu pernahkah kita berfikir bahwa dengan menggunakan metode yang seperti itu proses pembelajaran berjalan membosankan dan peserta didik menjadi pasif, karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Selain itu yang paling penting adalah pengetahuan yang diperoleh melalui model ini lebih cepat terlupakan dan juga dengan menggunakan metode ceramah menyebabkan peserta didik menjadi belajar menghafal yang tidak mengakibatkan timbulnya pengertian.

Seharusnya metode yang kita gunakan adalah metode yang lebih menekankan kepada point student-centered, dimana yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana siswa belajar. Dengan menitikberatkan point student-centered, siswa dapat menjadi lebih aktif dan mandiri. Selain itu, dalam suatu kelas yang heterogen student centered sangatlah berperan penting karena Student-Centered Learning memiliki potensi untuk mendorong siswa belajar lebih aktif, mandiri, sesuai dengan irama belajarnya masing-masing.

Pertanyaan berikutnya adalah, metode belajar seperti apa yang menitikberatkan student-centered? Ada beberapa metode yang sesuai, diantaranya ialah model pembelajaran Inkuiri (Inquiry Based Learning), model pembelajaran Discovery (Discovery Learning), model pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning), model Cooperative Learning, dan model pembelajaran berbasis permasalahan (Problem Based Learning). Semua model pembelajaran tersebut dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan kebutuhan siswa (yang heterogen seperti yang telah disebutkan diatas).

Untuk seluruh guru di Indonesia khususnya, harapannya semua guru dapat berhijrah dan mengubah paradigmanya dari metode pembelajaran konvensional atau tradisional menjadi metode pembelajaran yang inovatif. Mengubah dari yang siswa pasif menjadi siswa aktif, dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara, dari contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa, dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan oleh siswa, dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa, dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu.

Karena siswa adalah Subjek Belajar ^_^



           

Guru itu ... #Sebuah_Refleksi


Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak Marsigit karena telah membuat tulisan
"Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika",
dimana tulisan ini dapat menjadi salah satu acuan untuk mengetahui apa yang harus dan tidak harus kami lakukan sebagai calon guru.

Berdasarkan elegi tersebut, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwasannya seorang guru selain harus bisa menjadi fasilitator juga harus bisa menjadi organisator dan inisiator.
Sebagai organisator, guru dalam melaksanakan tugasnya harus dapat mengatur dan mengelola sumber-sumber pembelajaran yang tersedia. Seorang guru harus menyadari bahwa sumber belajar tidak hanya dari buku atau jurnal semata, melainkan dapat juga melalui blog yang dibuat guru untuk muridnya. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan sumber-sumber tersebut sebagai media pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan proses pembelajaran dengan efektif dan efisien.
Sedangkan sebagai inisiator, guru dituntut untuk menggali dan mencetuskan ide-ide dalam proses pembelajaran. Ide-ide yang dikemukakan adalah ide-ide yang kreatif dan dapat memotivasi peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencetuskan ide-ide yang dimiliki peserta didik adalah dengan cara diskusi kelompok dan juga membuat LKS untuk siswa. Dimana LKS ini bertujuan sebagai wahana siswa untuk menemukan rumus matematika dengan caranya sendiri. Sehingga mereka akan lebih memahami rumus tersebut.

Friday, 16 May 2014

A Worked Example Problem





What is a worked example problem?? Is it the same with working an example problem??
Do you curious about that?? A worked example problem is an already completed problem which we give to the student. The purpose of this are to shows a steps to answer the problem. It’s also directs the student attention to certain steps of the problem as the focus of questioning. And of course it’s different with working an example problem.
In a worked example problem we facilitate the student to identify and give an answer “Why these steps are used to solve the problem?” and “How these steps can be completed?”. The main point of a worked example problem are we write out both correct and incorrect steps to solve the problem (Correct and Incorrect solutions).
Why should we give the incorrect solution? It will just make the student have misconceptions. Maybe some educator thinking like that. In fact, when we shows the incorrect solution to the student, they will understand why these solution is incorrect and which part of the solutions that makes it wrong. So, the student wouldn’t make a same mistake.


For example,
Solve the following equation for x, 
2 = 5x -3
Both Laura and Jose solve these problem, but they have different answer. Laura has the incorrect answer meanwhile Jose has the correct one.
Laura’s answer
2= 5x-3
2 = 2x
a.)    What did Laura do?
b.)    Laura’s answer is wrong because …..

Jose's answer
2 = 5x -3
2+3 = 5x – 3 + 3
5 = 5x
5/5 = 5x/5
1= x
a.)    Why did Jose add 3 in both sides?
b.)    Why Jose divide both sides with 5?

Laura’s incorrect answer will helps students address misconceptions about combining like terms.

Resume from
MATHEMATICS TEACHER
Vol 107, no 7, March 2014